Pelestarian candi-candi bersejarah di Sidoarjo—seperti Candi Pari, Candi Sumur, dan Candi Pamotan—menjadi tantangan sekaligus peluang bagi daerah yang kaya warisan budaya ini. Melalui pendekatan Pentahelik, upaya pelestarian tidak lagi bertumpu pada satu pihak, tetapi diwujudkan melalui kolaborasi lima unsur utama: pemerintah, akademisi, komunitas masyarakat, sektor dunia usaha, dan media. Pemerintah hadir sebagai pengambil kebijakan, pelaksana konservasi, serta penyedia fasilitas yang menjamin keberlanjutan perlindungan situs. Akademisi memberikan kontribusi berupa riset ilmiah, kajian sejarah-arkeologis, hingga program edukasi untuk memperkuat pemahaman publik.
Komunitas lokal menjadi garda terdepan yang menjaga, merawat, sekaligus menghidupkan nilai-nilai budaya melalui partisipasi dalam berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan. Sementara itu, dunia usaha mendukung melalui bantuan pendanaan, kegiatan CSR, dan sinergi pengembangan pariwisata heritage yang beretika. Media massa—baik digital maupun konvensional—memperkuat ekosistem pelestarian dengan memperluas jangkauan informasi, membangun kesadaran publik, serta menumbuhkan apresiasi generasi muda terhadap nilai historis candi-candi Sidoarjo.
Sinergi Pentahelik ini menjadikan upaya pelestarian tidak hanya sebatas menjaga bangunan fisik, tetapi juga menghidupkan kembali nilai sejarah, budaya, identitas, dan potensi ekonomi daerah. Dengan kerja sama yang terpadu dan berkelanjutan, candi-candi Sidoarjo dapat terus menjadi warisan berharga yang dikenang, dipelajari, dan dinikmati oleh generasi masa kini maupun yang akan datang.












Reviews
There are no reviews yet.