Dr. Sri Setyo Iriani
- 2
-
(0)By : Dr. Sri Setyo Iriani
SINERGI PENTAHELIK 5 Unsur Penting Mengembangkan Wisata di Sidoarjo
Rp110.000Harga aslinya adalah: Rp110.000.Rp100.000Harga saat ini adalah: Rp100.000.Pelestarian candi-candi bersejarah di Sidoarjo—seperti Candi Pari, Candi Sumur, dan Candi Pamotan—menjadi tantangan sekaligus peluang bagi daerah yang kaya warisan budaya ini. Melalui pendekatan Pentahelik, upaya pelestarian tidak lagi bertumpu pada satu pihak, tetapi diwujudkan melalui kolaborasi lima unsur utama: pemerintah, akademisi, komunitas masyarakat, sektor dunia usaha, dan media. Pemerintah hadir sebagai pengambil kebijakan, pelaksana konservasi, serta penyedia fasilitas yang menjamin keberlanjutan perlindungan situs. Akademisi memberikan kontribusi berupa riset ilmiah, kajian sejarah-arkeologis, hingga program edukasi untuk memperkuat pemahaman publik.
Komunitas lokal menjadi garda terdepan yang menjaga, merawat, sekaligus menghidupkan nilai-nilai budaya melalui partisipasi dalam berbagai kegiatan sosial dan kebudayaan. Sementara itu, dunia usaha mendukung melalui bantuan pendanaan, kegiatan CSR, dan sinergi pengembangan pariwisata heritage yang beretika. Media massa—baik digital maupun konvensional—memperkuat ekosistem pelestarian dengan memperluas jangkauan informasi, membangun kesadaran publik, serta menumbuhkan apresiasi generasi muda terhadap nilai historis candi-candi Sidoarjo.
Sinergi Pentahelik ini menjadikan upaya pelestarian tidak hanya sebatas menjaga bangunan fisik, tetapi juga menghidupkan kembali nilai sejarah, budaya, identitas, dan potensi ekonomi daerah. Dengan kerja sama yang terpadu dan berkelanjutan, candi-candi Sidoarjo dapat terus menjadi warisan berharga yang dikenang, dipelajari, dan dinikmati oleh generasi masa kini maupun yang akan datang.
-
(0)By : Dr. Sri Setyo Iriani
Membangun Daya Saing Desa Wisata dari Dalam: Pendekatan Resource-Based View dan Absorptive Capacity”
Rp110.000Harga aslinya adalah: Rp110.000.Rp90.000Harga saat ini adalah: Rp90.000.Buku ini membahas strategi membangun daya saing desa wisata di Indonesia, khususnya di Jawa Timur, dengan memfokuskan pada penguatan kapasitas internal desa. Menggunakan pendekatan Resource-Based View (RBV), buku ini menekankan pentingnya pengelolaan aset unik yang dimiliki desa, sementara konsep absorptive capacity menyoroti kemampuan desa dalam menyerap dan mengaplikasikan pengetahuan baru. Melalui integrasi kedua perspektif ini, penulis menawarkan model pembangunan desa wisata yang mandiri, partisipatif, dan berkelanjutan. Buku ini juga didukung oleh pengalaman lapangan dan dialog dengan para pelaku desa wisata, sehingga relevan bagi akademisi maupun praktisi. Harapannya, buku ini menjadi panduan bagi pengembangan potensi lokal yang mampu bersaing di tingkat global.



