Scroll, Like, Rusak Ketika Jempol Mengalahkan Akal

Rp150.000 Harga aslinya adalah: Rp150.000.Rp135.000Harga saat ini adalah: Rp135.000.

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Hal mendasar terkait isu ini  meliputi: pertama, perubahan cara berinteraksi, di mana media sosial menggantikan atau melengkapi bentuk komunikasi tatap muka. Hubungan sosial kini lebih sering terjadi dalam bentuk digital. Kedua, integrasi kehidupan online dan offline. Kehidupan seseorang di dunia nyata (offline) kini seringkali dipengaruhi oleh eksistensinya di media sosial, baik dalam hal karier, hubungan personal, hingga harga diri. Ketiga, peralihan sumber informasi dan opini. Dahulu, media massa seperti TV dan surat kabar mendominasi. Kini, media sosial menjadi tempat utama memperoleh berita, opini publik, dan edukasi—seringkali dengan kecepatan yang tak tertandingi. Keempat, digitalisasi identitas dan privasi, dimana identitas personal (dari foto, status, hingga opini) terbuka luas di media sosial.

Dalam buku ini, penulis menyajikan refleksi tajam tentang dampak media sosial, terutama di kalangan generasi muda. Mereka saat ini dipaksa jadi tahu banyak hal, tapi semakin jarang benar-benar memahami. Media sosial memberi akses cepat ke berbagai informasi, namun seringkali hanya dalam bentuk potongan singkat (caption, status, story, thread). Kita merasa melek informasi, padahal yang kita tahu seringkali hanya permukaan. Sebagai contoh, seseorang bisa berbicara lantang soal isu di negara lain bahkan global, perubahan iklim, atau kesehatan mental setelah membaca 3 unggahan saja di Instagram. Tapi ketika diajak berdiskusi mendalam, ia tak mampu menjelaskan sebab-akibat, konteks sejarah, atau data faktual. Hal ini bermakna, bahwa media sosial membuat kita terpapar luas, tapi dangkal. Ini menciptakan ilusi pengetahuan dan membentuk generasi yang cepat bereaksi, tapi kurang reflektif.

Author: Tijan

Media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia modern. Hal mendasar terkait isu ini  meliputi: pertama, perubahan cara berinteraksi, di mana media sosial menggantikan atau melengkapi bentuk komunikasi tatap muka. Hubungan sosial kini lebih sering terjadi dalam bentuk digital. Kedua, integrasi kehidupan online dan offline. Kehidupan seseorang di dunia nyata (offline) kini seringkali dipengaruhi oleh eksistensinya di media sosial, baik dalam hal karier, hubungan personal, hingga harga diri. Ketiga, peralihan sumber informasi dan opini. Dahulu, media massa seperti TV dan surat kabar mendominasi. Kini, media sosial menjadi tempat utama memperoleh berita, opini publik, dan edukasi—seringkali dengan kecepatan yang tak tertandingi. Keempat, digitalisasi identitas dan privasi, dimana identitas personal (dari foto, status, hingga opini) terbuka luas di media sosial.

Dalam buku ini, penulis menyajikan refleksi tajam tentang dampak media sosial, terutama di kalangan generasi muda. Mereka saat ini dipaksa jadi tahu banyak hal, tapi semakin jarang benar-benar memahami. Media sosial memberi akses cepat ke berbagai informasi, namun seringkali hanya dalam bentuk potongan singkat (caption, status, story, thread). Kita merasa melek informasi, padahal yang kita tahu seringkali hanya permukaan. Sebagai contoh, seseorang bisa berbicara lantang soal isu di negara lain bahkan global, perubahan iklim, atau kesehatan mental setelah membaca 3 unggahan saja di Instagram. Tapi ketika diajak berdiskusi mendalam, ia tak mampu menjelaskan sebab-akibat, konteks sejarah, atau data faktual. Hal ini bermakna, bahwa media sosial membuat kita terpapar luas, tapi dangkal. Ini menciptakan ilusi pengetahuan dan membentuk generasi yang cepat bereaksi, tapi kurang reflektif.

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Scroll, Like, Rusak Ketika Jempol Mengalahkan Akal”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *